Headlines News :

    Pemain termahal dunia ini bawa Madrid juara Copa del Rey

    Pembaca Berita - Kemenangan Real Madrid atas Barcelona 2-1 di final Copa del Rey Kamis (17/04) dini hari, di stadion Mestalla Valencia. Hasil ini menjadikan Real Madrid memantapkan
    dirinya bahwa mereka lebih superior ketimbang rival abadinya, Barcelona. Sebab baik Madrid dan Barcelona sudah bertemu di final Copa del Rey sebanyak enam kali.

    Kemudian keduanya masing-masing sudah mengoleksi tiga kemenangan. Melalui kemenangan ini secara otomatis tim ibu kota ini telah mengantongi empat kemenangan.
    Gol pertama Madrid diciptakan oleh Di Maria ketika pertandingan baru berjalan 11 menit melalui kerja sama apik Isco dan Benzema dari lini tengah sebelum akhirnya

    berhasil diselesaikan dengan baik oleh Angel Di Maria.

    Lionel Messi cs baru bisa menyamakan kedudukan melalui pemain muda mereka, Marc Bartra, setelah memanfaatkan sepak pojok sang kapten Xavi Hernandez pada menit ke 68.

    Enam menit jelang bubar Madrid baru bisa memastikan gelar juaranya yang ke 19 melalui Gareth Bale. Bale benar-benar membuktikan bahwa dirinya memang pantas dinobatkan

    sebagai pemain termahal dunia, setelah aksi individunya yang menawan mampu menjadi penentu kemenangan Los Blancos. Bale melakukan penetrasi dari setengah lapangan yang

    juga sukses melewati hadangan Bartra sebelum akhirnya mengelabui Pinto di menit 84.

    Dengan demikian, Madrid berhasil memangkas jarak dalam hal torehan gelar dengan Barcelona. Madrid total sudah mengoleksi 19 gelar Copa del Rey, sedangkan Barcelona mempunyai 26 gelar Copa del Rey.

    Yang pantas menjadi sorotan pada pertandingan kali ini adalah sosok pemain yang berasal dari Wales, Gareth Bale. Bagaimana tidak, Bale selain memiliki predikat manusia termahal di dunia, ia juga menjadi penentu kemenangan.

    Proses gol yang dilakukan cukup fantastis, ia menendang jauh bola ke depan dan beradu lari dengan Marc Bartra. Walaupun sempat terjadi body contact dengan Bartra, Bale masih mampu berlari bagai kilat meninggalkan Bartra, sebelum akhirnya mengelabui Pinto dan menjadikan Madrid sebagai juaranya.

    Ayu Azhari tolak tawaran duet 'nyaleg' bareng anak

    Pembaca Berita - Bukan hanya putranya, Axel Djody Gondokusumo yang mendapat kepercayaan untuk maju sebagai caleg. Ayu Azhari pun sempat ditawari untuk berduet dengan putranya. Namun Ayu menolak ajakan tersebut.
    "Saya sempat ditawari, tapi Axel saja, karena saya masih ada anak yang kecil," ungkap Ayu saat ditemui di Kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, Rabu (16/4).

    Menurut Ayu, Axel lebih memiliki kapasitas untuk maju sebagai caleg di pemilu tahun ini ketimbang dirinya yang buta politik. Apalagi usia Axel juga masih terbilang muda.

    Memiliki banyak tanggung jawab, stronga  href=

    "Umur Axel masih panjang, dia masih bertanggung jawab bagi adik-adiknya. Saya juga masih awam. Saya rasa Axel punya kapasitas. Kalau ibarat USB, Axel masih bagus," paparnya.

    Ayu menilai dirinya memiliki tanggung jawab yang banyak untuk keluarga. Itulah alasan ia menolak pinangan maju sebagai caleg.

    "Kalau saya sudah banyak tanduknya, tanggung jawabnya. Jadi biar Axel saja. Saya support Axel dulu," tandasnya.

    Lamanya proses sidang bikin AQJ resah

    Pembaca Berita - Sudah enam kali putra musisi Ahmad Dhani, AQJ menjalani sidang terkait kecelakaan maut Tol Jagorawi yang menelan 7 korban jiwa. Tak ayal hal itu membuat AQJ bertanya-tanya sampai kapan dirinya akan disidang.

    "Dia (AQJ) tanya satu, berapa lama lagi sidangnya. Apa yang akan terjadi pada dirinya nanti setelah persidangan," ungkap Lydia Wongsonegoro, kuasa hukum AQJ di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Rabu (16/4).

    Dul merasa resah menjalani persidangannya.

    Menurut Lidya, wajar jika AQJ tertekan mengingat usianya yang masih belia dan sudah harus mengikuti proses persidangan. "Kalau soal psikologis, anak-anak ya pasti tertekan. Namanya juga anak-anak," ujarnya.

    Begitu pun saat menjalani persidangan yang mengagendakan 2 saksi fakta hari ini. Dikatakan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Tamalia Rossa, AQJ terlihat sedih.

    "Sedih ada tapi tidak bisa diceritakan di sini karena kan bersifat tertutup. Yang tahu kan hati mereka. Kita nggak bisa ceritakan," ujar Rossa.

    Kisah anggota Kopassus tertembak gara-gara kain songket

    Pembaca Berita - Komando Pasukan Khusus (Kopassus) TNI AD merayakan hari jadi ke-62 tepat tanggal 16 April 2014. Banyak kisah menarik soal pasukan elite ini.

    Saat dibentuk tahun 1952, jumlah keseluruhan pasukan ini tak lebih dari 200 orang. Generasi awal dinamakan Kompi A. Dilatih langsung oleh Mohammad Idjon Djanbi, mantan anggota Korps Speciale Troepen yang membelot dan mendukung TNI.

    Kesatuan awal ini punya jiwa korsa yang sangat tinggi. Mereka juga punya kepercayaan soal kejujuran. Jangan mengambil apa pun di medan pertempuran.

    Prinsip ini dipegang teguh. Anggota pasukan Komando tak boleh mencuri atau menjarah dalam pertempuran.

    "Walau hanya satu jarum pun, jangan kau ambil," demikian isi ucapan yang sangat dipercaya oleh pasukan Kopassus yang saat itu masih bernama Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD).

    M Sidi, salah seorang anggota Kompi A pernah berkisah soal kepercayaan ini. Saat itu sekitar tahun 1958, M Sidi dan RPKAD bertugas menumpas pemberontakan Permesta di Manado.

    Di suatu kampung, salah satu rekan M Sidi tertarik dengan kain songket khas Sulawesi yang indah. Dia mengambil kain itu. Teman-teman satu tim berusaha melarangnya. Tapi prajurit itu tak mendengarkan.

    "Beberapa hari kemudian prajurit yang mengambil kain itu meninggal karena tertembak dalam pertempuran. Mereka semua percaya musibah ini terjadi karena prajurit itu mengambil kain songket," tutur putra M Sidi, Tatang Sudrajat, mengisahkan kisah itu saat berbincang dengan merdeka.com di Sukabumi beberapa waktu lalu.

    Kepercayaan tak mengambil barang rampasan perang ini juga dipegang teguh oleh Jenderal Benny Moerdani. Saat itu Benny baru berpangkat Letnan Satu.

    Benny dan pasukannya diterjunkan merebut Lapangan Udara Simpang Tiga di Pekanbaru dari tangan PRRI. Saat mendarat, mereka menemukan banyak perbekalan dan senjata pemberontak ditinggalkan begitu saja.

    Saat itulah Letnan II Dading Kalbuadi, rekan Benny, menendang sebuah peti kayu. Perwira muda RPKAD itu terkejut setengah mati melihat isinya.

    "Wah duit, Ben! Uang, gimana ini?" kata Dading.

    "Sudahlah jangan kau hiraukan. Tinggalkan saja, nanti kamu mati," kata Benny.

    Peti penuh uang itu pun ditinggalkan begitu saja tanpa disentuh. Demikian seperti dikisahkan Julius Pour dalam Buku Benny Moerdani, tragedi seorang loyalis.

    Pendiri Kopassus, Kolonel Kawilarang pun dikenal jujur saat perang kemerdekaan. Dia tak mau mengambil guci emas permata peninggalan Jepang. Padahal isinya bisa bikin kaya tujuh turunan.

    Kawilarang memilih menyerahkan harta ini pada pemerintah.
     

    Widget powered by WhatstheScore.com

    Support : Koran Gratis | Ini bolaku | Mas Template
    Copyright © 2014. Pembaca Berita - All Rights Reserved
    Template Created by Creating Website Published by Mas Template
    Proudly powered by Blogger